KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN
Tujuan praktikum : Meneliti laju tumbuh daun sejak dan embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran tetap pada tanaman kacang jogo.
Alat dan Bahan : bahan yang digunakan yaitu bahan dari tanaman yang berupa kacang jogo (Phaseolus vulgaris) dan alat-alat yang kan digunakan yaitu seperti kertas millimeter atau penggaris, pisau silet, pot berisi campuran pasir dan tanah dengan perbandingan 1:1.
Pendahuluan
Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan (Tjitrosomo, 1999).

Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Sitompul dan Guritno, 1995)
Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991)
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1992).

Hasil Pengamatan :
No Umur tanaman Panjang Rata-rata daun (cm) Rata-rata total
Biji 1 Biji 2 Biji 3
1 0 (20 April) 0,5 0,4 0,4 0,43
2 3 (23 April) 0,5 0,4 0,5 0,43
3 6 (26 April) 2,1 1,8 1,0 1,0
4 9 (29 April) 4,9 4,7 4,5 4,7
5 12 (2 Mei) 8,5 8,2 7,7 8,13
6 15 (5 Mei) 12,5 11,5 11,5 11,83
7 18 (8 Mei) 15,9 15,5 14,9 15,43
8 21 (11 Mei) 17,3 17,1 16,8 17,06
9 24 (14 Mei) 18,5 18,0 17,7 18,06
10 27 (17 Mei) 19,3 19,0 18,7 19,0

Pembahasan

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa panjang rata-rata daun mengalami kenaikan pada minggu ke-1, ke-2,ke-3, ke-4 dan ke-5 pertumbuhan meningkat terus, dari 0,4 cm menjadi 8,13 cm. Pada saat ini tumbuhan memasuki fase logaritmik, dimana laju pertumbuhan berbanding lurus dengan ukuran organisme. Pada minggu ke-6, ke-7, ke-8, ke-9 dan ke-10 pertambahan panjang daun hampir konstan, yaitu dari 11,83 cm menjadi 15,43 cm menjadi 17,06 cm menjadi 18,06 dan 19 cm. Pada saat ini tumbuhan memasuki fase penuaan.
Hal ini sesuai dengan literatur Srigandono (1991) yang menyatakan bahwa kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linear dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus, laju berbannding lurus dengan ukuran organisme. Pada fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua.

Kesimpulan
Pertumbuhan jumlah daun lambat pada awalnya, tetapi kemudian meningkat, yang merupakan fase pertama dalam pertumbuhan, pada fase linier pertumbuhan daun akan berlangsung secara konstan sedangkan pada fase penuaan pertumbuhan daun akan mengalami penurunan.

Daftar pustaka
Salisbury, F.B dan C.W. Ross., 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Tiga Edisi Keempat. ITB-Press, Bandung
Sitompul, S.M dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Splittstoesser, W. 1984. Vegetable Growing Handbook. Mc Grow Hill Company,New York
Susilo, W. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Uuniversitas Indonesia, Jakarta
Tjitrosomo, G. 1999. Botani umum 2. Angkasa : Bandung

PENGHAMBATAN TUMBUHAN TUNAS LATERAL DAN DOMINASI TUNAS APIKAL
Tujuan praktikum : meneliti pengaruh auksin terhadap pertumbuhan tunas apical.
Alat dan Bahan : bahan yang digunakan ada dua yaitu bahan dari tanaman yang berupa kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) yang berumur dua minggu dalam pot dan bahan kimiayang digunakan yaitu pasta lanolin dan pasta IAA 400 ppm, sedangkan alat yang digunakan yaitu pisau silet/cutter, sudip, kertas atau plastic hitam, tali, gelas preparat dan penutupnya dan mikroskop.
Pendahuluan
Pertumbuhan tanaman adalah suatu proses yang kompleks yang merupakan proses yang vital menyebabkan suatu perubahan yang tetap pada setiap tanmana atau bagiannya dipandang dari sudut ukuran, bentuk, berat dan volumenya. Pertumbuhan tanaman setidaknya menyangkut beberapa fase atau proses diantaranya (Anonim, 2008):fase pembentukan sel, fase perpanjangan dan pembesaran sel, fase diferensiasi sel. Di dalam pertumbuhan tanaman terdapat adanya dominansi pertumbuhan dibagian apeks atau ujung organ, yang disebut sebagian dominansi apical. (Chambell. 2000)
Pada pertumbuhan tanaman terdapat persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhannya (Dahlia,2001). Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk. Pada batang sebgaian besar, kuncup apikal memberi pengaruh yang menghambat kuncup terhadap tunas lateral dengan mencegah atau menghambat perkembangannya. Produksi kuncup yang tidak berkembang mengandung pertahanan pasif karena bila kuncup rusak kuncup samping akan tumbuh dan menjadi tajuk (Hilman,1984. Dominansi apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral, hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi. konsentrasi auksin yang tinggi ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral yang dekat dengan pucuk. Pucuk apikal merupakan tempat produksi auksin, jika pucuk apikal (tunas pucuk) dipotong maka produksi auksin terhenti. Sehingga pada pengamatan ini dilakukan pemotongan pada tunas pucuk dengan harapan akan tumbuh tunas lateral yang mana peran auksin yang disentesis pada tunas pucuk akan terhenti dan pada pengamatan ini digantikan oleh beberapa jenis konsentrasi hormon auksin (IAA) yang berfusi dengan lanolin untuk mengetahui pertumbuhan tunas lateralnya.( Sustetyoadi.2004)
Dominansi apikal atau dominanis pucuk biasanya menandai pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominansi apikal setidaknya berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan lateral. Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk (Dahlai, 2001). Dominasi pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk tumbuhan yang akan mendorong pertumbuhan tunas lateral.
Thimann dan Skoog menunjukkan bahwa dominanis apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral, hal ini akna menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi. Konsentrasi auksin yang tinggi ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral yang dekat dengan pucuk (Dahlia, 2001). Auksin diproduksi secara endogen pada bagian pucuk tanmana yang akna didistribusikan secara polar yag mampu menghambat pertumbuhan tunas lateral.
Auksin adalah zat yang ditemukan pada ujung kara, batang, pembentukan bunga yang berfungsi untuk pengatur pembesaran sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman nama lain dari hormon ini adalah IAA atau Asam Indol Asetat. Hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar, fungsi dari hormon auksin ini adalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat pematangan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah. Beberapa fungsi auksin lainnya (Anonim, 2008)
Hasil Pengamatan :
Perlakuan Panjang rata-rata tunas lateral (mm) Diameter rata-rata batang (mm)
1. Kontrol 20 4
2. Tanaman dipotong dan diberi pasta lanolin - 2
3. Tanaman dipotong dan diberi pasta IAA - 2

Pembahasan
Dominansi apikal diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan, dominansi apikal atau dominanis pucuk biasanya menandai pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominansi apikal setidaknya berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan lateral. Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk.
Dari tiga perilaku yang dilakukan tanaman yang memiliki panjang tunas lateral terpanjang yaitu tanaman control. Hal ini terjdi karena pada tanaman control tidak diberi pasta lanolin maupun pasta IAA sehingga menyebabkan tanamn tersebut tumbuh dengan normal. Dan juga karena hal tersebut tanamn ini memiliki diameter batang terbesar.
Pada tanamn yang diberi pasta lanolin dan pasta IAA memiliki panjang tunas yang tetap yaitu tidak mengalami perubahan hal ini terjadi karena pasta lanolin dan pasta IAA menghambat pertumbuhan tanaman, sedangkan pada diameter batang mengalami perubahan tetapi masih lebih kecil dari pada diameter tanaman control.
Semakin tinggi kadar konsentrasi auksin yang diberikan pada tanaman maka akan menghambat pertumbuhan tunas lateral, sebaliknya jika sedikit kadar auksin yang diberikan akan mempercepat pertumbuhan tunas lateral sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Kesimpulan
Auksin menghambat tumbuhnya tunas lateral pada tanaman. Jika kadar auksin yang diberikan pada tanaman banyak, maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan lateral, sedangkan jika pemberian auksin sedikit maka pertumbuhan tanaman akan lebih cepat.

Daftar pustaka
Chambell. 2000.Biologi. Erlangga: Jakarta.
Dahlia. 2001. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. UM Press: Malang.
Hilman. 1997. Pertumbuhan Tanaman Tinggi. Cakrawala: Yogyakarta.
Setjo,Sustetyoadi.2004. Anatomi Tumbuhan. UM Press: Malang

UJI BIOLOGIS 2,4-D
Tujuan praktikum : ¬menentukan konsentrasi efektif 2,4-D sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4-D.
Alat dan Bahan : bahan yang digunakan ada dua yaitu bahan dari tanaman yang berupa biji mentimun (Cucumis sativus) dan bahan kimia berupa larutan baku2,4-D dan larutan penyangga fosfat. Sedangkan alat-alt yang akan digunakan yaitu kertas merang/saring dan tujuh buah cawan petri.
Pendahuluan
Asam 2,4-D dan Kinetin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Sedangkan kinetin adalah salah satu sitokinin yang berperan untuk pembelahan sel dalam kultur jaringan tanaman. Perbandingan auksin dan sitokinin yang seimbang pada eksplan dapat menghasilkan pertumbuhan kalus. asam 2,4-D yang merupakan salah satu zat pengatur tumbuh golongan auksin sintetik dan kinetin merupakan zat pengatur tumbuh golongan sitokinin sintetik yang menyebabkan peningkatan pembelahan sel. Kalus adalah suatu jaringan yang bersifat meristematis akibat timbulnya luka dan merupakan salah satu wujud dari dediferensiasi (Orchard, 1979).
Auksin dapat meningkatkan daya kecambah beberapa jenis tanaman. Salah satu senyawa yang tergolong auksin adalah ZPT 2,4-D. Senyawa tersebut pada konsentrasi yang rendah dapat mendorong pembelahan sel, mendorong pertumbuhan tanaman dan meningkatkan daya kecambah benih (Mardjuki, 1990).Senyawa ZPT 2,4-D memiliki kelebihan dibandingkan dengan auksin alamiah IAA, yaitu lebih stabil dan terdapat lama di dalam jaringan tanaman (Orchard, 1979). Dijelaskan oleh Podesta (2005), ZPT 2,4-D memiliki masa depan di bidang pertanian karena dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis tanaman antara lain menunjukkan bahwa kedelai dan karet. Hasil penelitian Lewin (1997) pemberian ZPT 2,4-D dengan konsentrasi 1,22-1,44 ppm berhasil meningkatkan viabilitas dan vigor benih tanaman kedelai. Diharapkan pemberian 2,4-D pada konsentrasi yang tepat akan meningkatkan viabilitas dan vigor benih serta pertumbuhan beberapa genotipe jarak pagar (Jatropha curcas Linn.) yang dipanen secara serempak pada waktu bersamaan.

Hasil Pengamatan :
Konsentrasi X panjang akar S2 S
0 9,667 8,86881 2,978055
0,001 5,75 1,334107 1,155036
0,01 8 3,345 1,828934
0,1 3,8 0,907851 0,952815
1,0 1 0,1 0,316228
10,0 0 0 0
Rahasia 0 0 0

Pembahasan
Auksin sintetis, seperti halnya 2,4-dinitrofenol (2,4-D), digunakan secara meluas sebagai herbisida tumbuhan. Pada Monocotyledoneae, misalnya jagung dan rumput lainnya dapat dengan cepat menginaktifkan auksin sintetik ini, tetapi pada Dicotyledoneae tidak terjadi, bahkan tanamannya mati karena terlalu banyak dosishormonalnya. Menyemprot beberapa tumbuhan serialia ataupun padang rumput dengan2,4-D, akan mengeliminir gulma berdaun lebar seperti dandelion.( Orchard)
Pada praktikum ini dapat dijelaskan bahwa semakin besar konsentrasi herbisida maka proses pemanjangan akar akan semakin maksimal, dan semakin kecil konsentrasi herbisida maka proses pemanjangan akar akan semakin terhambat bahkan bisa terjadi kegagalan dalam pemanjangan akar. Proses pemanjangan dapat terjadi secara maksimal karena factor suhu pada waktu perlakuan yang sesuai dan tidak adanya lapisan lilin pada tanaman, Sedangkan hal yang menyebabkan akar tidak mengalami pemanjangan karena ada beberapa faktor penting yaitu ada lapisan lilin, suhu pada waktu perlakuan tidak sesuai.
Pada tanaman rahasia tidak terjadi pemanjangan akar hal ini dapat terjadi karena ada beberapa factor diantaranya yaitu adanya lapisan lilin pada daun tanaman, tidak sesuainya suhu pada waktu perlakuan dan permeabilitas membrane.

Kesimpulan

Semakin besar konsentrasi 2,4-D maka akan menyebabkan pertumbuhan akar yang maksimal atau lebih panjang.

Daftar pustaka
Asparno Mardjuki, 1990, Pertanian dan Masalahnya, Andi Offset, Yogyakarta.

Lewin, J. and B.E.F. Reimann. 1969. Silicon and plant growth. Annual Rev.PlantPhysiology. 20 : 289-304.

Orchard, P.W. and D.C. Goodwin, 1979, Environmental Factors, Plant and Crop Growth , University of New England (AAUCS).
Salisbury , F.B. and C.W. Ross, 1992, Plant Physiology . Wadsworth Publishing Company, Belmont , California.

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN
Tujuan praktikum : Meneliti laju tumbuh daun sejak dan embrio dalam biji sampai daun mencapai ukuran tetap pada tanaman kacang jogo.
Alat dan Bahan : bahan yang digunakan yaitu bahan dari tanaman yang berupa kacang jogo (Phaseolus vulgaris) dan alat-alat yang kan digunakan yaitu seperti kertas millimeter atau penggaris, pisau silet, pot berisi campuran pasir dan tanah dengan perbandingan 1:1.
Pendahuluan
Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan (Tjitrosomo, 1999).

Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Sitompul dan Guritno, 1995)
Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991)
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1992).

Hasil Pengamatan :
No Umur tanaman Panjang Rata-rata daun (cm) Rata-rata total
Biji 1 Biji 2 Biji 3
1 0 (20 April) 0,5 0,4 0,4 0,43
2 3 (23 April) 0,5 0,4 0,5 0,43
3 6 (26 April) 2,1 1,8 1,0 1,0
4 9 (29 April) 4,9 4,7 4,5 4,7
5 12 (2 Mei) 8,5 8,2 7,7 8,13
6 15 (5 Mei) 12,5 11,5 11,5 11,83
7 18 (8 Mei) 15,9 15,5 14,9 15,43
8 21 (11 Mei) 17,3 17,1 16,8 17,06
9 24 (14 Mei) 18,5 18,0 17,7 18,06
10 27 (17 Mei) 19,3 19,0 18,7 19,0

Pembahasan

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa panjang rata-rata daun mengalami kenaikan pada minggu ke-1, ke-2,ke-3, ke-4 dan ke-5 pertumbuhan meningkat terus, dari 0,4 cm menjadi 8,13 cm. Pada saat ini tumbuhan memasuki fase logaritmik, dimana laju pertumbuhan berbanding lurus dengan ukuran organisme. Pada minggu ke-6, ke-7, ke-8, ke-9 dan ke-10 pertambahan panjang daun hampir konstan, yaitu dari 11,83 cm menjadi 15,43 cm menjadi 17,06 cm menjadi 18,06 dan 19 cm. Pada saat ini tumbuhan memasuki fase penuaan.
Hal ini sesuai dengan literatur Srigandono (1991) yang menyatakan bahwa kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linear dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, laju pertumbuhan lambat pada awalnya tetapi kemudian meningkat terus, laju berbannding lurus dengan ukuran organisme. Pada fase linear, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua.

Kesimpulan
Pertumbuhan jumlah daun lambat pada awalnya, tetapi kemudian meningkat, yang merupakan fase pertama dalam pertumbuhan, pada fase linier pertumbuhan daun akan berlangsung secara konstan sedangkan pada fase penuaan pertumbuhan daun akan mengalami penurunan.

Daftar pustaka
Salisbury, F.B dan C.W. Ross., 1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid Tiga Edisi Keempat. ITB-Press, Bandung
Sitompul, S.M dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Splittstoesser, W. 1984. Vegetable Growing Handbook. Mc Grow Hill Company,New York
Susilo, W. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Uuniversitas Indonesia, Jakarta
Tjitrosomo, G. 1999. Botani umum 2. Angkasa : Bandung

UJI BIOLOGIS 2,4-D
Tujuan praktikum : ¬menentukan konsentrasi efektif 2,4-D sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4-D.
Alat dan Bahan : bahan yang digunakan ada dua yaitu bahan dari tanaman yang berupa biji mentimun (Cucumis sativus) dan bahan kimia berupa larutan baku2,4-D dan larutan penyangga fosfat. Sedangkan alat-alt yang akan digunakan yaitu kertas merang/saring dan tujuh buah cawan petri.
Pendahuluan
Asam 2,4-D dan Kinetin merupakan zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan dalam kultur jaringan tumbuhan. Asam 2,4-D adalah salah satu auksin yang berperan dalam pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat regenerasi pucuk tanaman. Sedangkan kinetin adalah salah satu sitokinin yang berperan untuk pembelahan sel dalam kultur jaringan tanaman. Perbandingan auksin dan sitokinin yang seimbang pada eksplan dapat menghasilkan pertumbuhan kalus. asam 2,4-D yang merupakan salah satu zat pengatur tumbuh golongan auksin sintetik dan kinetin merupakan zat pengatur tumbuh golongan sitokinin sintetik yang menyebabkan peningkatan pembelahan sel. Kalus adalah suatu jaringan yang bersifat meristematis akibat timbulnya luka dan merupakan salah satu wujud dari dediferensiasi (Orchard, 1979).
Auksin dapat meningkatkan daya kecambah beberapa jenis tanaman. Salah satu senyawa yang tergolong auksin adalah ZPT 2,4-D. Senyawa tersebut pada konsentrasi yang rendah dapat mendorong pembelahan sel, mendorong pertumbuhan tanaman dan meningkatkan daya kecambah benih (Mardjuki, 1990).Senyawa ZPT 2,4-D memiliki kelebihan dibandingkan dengan auksin alamiah IAA, yaitu lebih stabil dan terdapat lama di dalam jaringan tanaman (Orchard, 1979). Dijelaskan oleh Podesta (2005), ZPT 2,4-D memiliki masa depan di bidang pertanian karena dapat meningkatkan pertumbuhan beberapa jenis tanaman antara lain menunjukkan bahwa kedelai dan karet. Hasil penelitian Lewin (1997) pemberian ZPT 2,4-D dengan konsentrasi 1,22-1,44 ppm berhasil meningkatkan viabilitas dan vigor benih tanaman kedelai. Diharapkan pemberian 2,4-D pada konsentrasi yang tepat akan meningkatkan viabilitas dan vigor benih serta pertumbuhan beberapa genotipe jarak pagar (Jatropha curcas Linn.) yang dipanen secara serempak pada waktu bersamaan.

Hasil Pengamatan :
Konsentrasi X panjang akar S2 S
0 9,667 8,86881 2,978055
0,001 5,75 1,334107 1,155036
0,01 8 3,345 1,828934
0,1 3,8 0,907851 0,952815
1,0 1 0,1 0,316228
10,0 0 0 0
Rahasia 0 0 0

Pembahasan
Auksin sintetis, seperti halnya 2,4-dinitrofenol (2,4-D), digunakan secara meluas sebagai herbisida tumbuhan. Pada Monocotyledoneae, misalnya jagung dan rumput lainnya dapat dengan cepat menginaktifkan auksin sintetik ini, tetapi pada Dicotyledoneae tidak terjadi, bahkan tanamannya mati karena terlalu banyak dosishormonalnya. Menyemprot beberapa tumbuhan serialia ataupun padang rumput dengan2,4-D, akan mengeliminir gulma berdaun lebar seperti dandelion.( Orchard)
Pada praktikum ini dapat dijelaskan bahwa semakin besar konsentrasi herbisida maka proses pemanjangan akar akan semakin maksimal, dan semakin kecil konsentrasi herbisida maka proses pemanjangan akar akan semakin terhambat bahkan bisa terjadi kegagalan dalam pemanjangan akar. Proses pemanjangan dapat terjadi secara maksimal karena factor suhu pada waktu perlakuan yang sesuai dan tidak adanya lapisan lilin pada tanaman, Sedangkan hal yang menyebabkan akar tidak mengalami pemanjangan karena ada beberapa faktor penting yaitu ada lapisan lilin, suhu pada waktu perlakuan tidak sesuai.
Pada tanaman rahasia tidak terjadi pemanjangan akar hal ini dapat terjadi karena ada beberapa factor diantaranya yaitu adanya lapisan lilin pada daun tanaman, tidak sesuainya suhu pada waktu perlakuan dan permeabilitas membrane.

Kesimpulan

Semakin besar konsentrasi 2,4-D maka akan menyebabkan pertumbuhan akar yang maksimal atau lebih panjang.

Daftar pustaka
Asparno Mardjuki, 1990, Pertanian dan Masalahnya, Andi Offset, Yogyakarta.

Lewin, J. and B.E.F. Reimann. 1969. Silicon and plant growth. Annual Rev.PlantPhysiology. 20 : 289-304.

Orchard, P.W. and D.C. Goodwin, 1979, Environmental Factors, Plant and Crop Growth , University of New England (AAUCS).
Salisbury , F.B. and C.W. Ross, 1992, Plant Physiology . Wadsworth Publishing Company, Belmont , California.

Tujuan praktikum : meneliti pengaruh auksin terhadap pertumbuhan tunas apical.
Alat dan Bahan : bahan yang digunakan ada dua yaitu bahan dari tanaman yang berupa kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus) yang berumur dua minggu dalam pot dan bahan kimiayang digunakan yaitu pasta lanolin dan pasta IAA 400 ppm, sedangkan alat yang digunakan yaitu pisau silet/cutter, sudip, kertas atau plastic hitam, tali, gelas preparat dan penutupnya dan mikroskop.
Pendahuluan
Pertumbuhan tanaman adalah suatu proses yang kompleks yang merupakan proses yang vital menyebabkan suatu perubahan yang tetap pada setiap tanmana atau bagiannya dipandang dari sudut ukuran, bentuk, berat dan volumenya. Pertumbuhan tanaman setidaknya menyangkut beberapa fase atau proses diantaranya (Anonim, 2008):fase pembentukan sel, fase perpanjangan dan pembesaran sel, fase diferensiasi sel. Di dalam pertumbuhan tanaman terdapat adanya dominansi pertumbuhan dibagian apeks atau ujung organ, yang disebut sebagian dominansi apical. (Chambell. 2000)
Pada pertumbuhan tanaman terdapat persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhannya (Dahlia,2001). Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk. Pada batang sebgaian besar, kuncup apikal memberi pengaruh yang menghambat kuncup terhadap tunas lateral dengan mencegah atau menghambat perkembangannya. Produksi kuncup yang tidak berkembang mengandung pertahanan pasif karena bila kuncup rusak kuncup samping akan tumbuh dan menjadi tajuk (Hilman,1984. Dominansi apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral, hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi. konsentrasi auksin yang tinggi ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral yang dekat dengan pucuk. Pucuk apikal merupakan tempat produksi auksin, jika pucuk apikal (tunas pucuk) dipotong maka produksi auksin terhenti. Sehingga pada pengamatan ini dilakukan pemotongan pada tunas pucuk dengan harapan akan tumbuh tunas lateral yang mana peran auksin yang disentesis pada tunas pucuk akan terhenti dan pada pengamatan ini digantikan oleh beberapa jenis konsentrasi hormon auksin (IAA) yang berfusi dengan lanolin untuk mengetahui pertumbuhan tunas lateralnya.( Sustetyoadi.2004)
Dominansi apikal atau dominanis pucuk biasanya menandai pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominansi apikal setidaknya berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan lateral. Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk (Dahlai, 2001). Dominasi pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk tumbuhan yang akan mendorong pertumbuhan tunas lateral.
Thimann dan Skoog menunjukkan bahwa dominanis apikal disebabkan oleh auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral, hal ini akna menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih terlalu tinggi. Konsentrasi auksin yang tinggi ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral yang dekat dengan pucuk (Dahlia, 2001). Auksin diproduksi secara endogen pada bagian pucuk tanmana yang akna didistribusikan secara polar yag mampu menghambat pertumbuhan tunas lateral.
Auksin adalah zat yang ditemukan pada ujung kara, batang, pembentukan bunga yang berfungsi untuk pengatur pembesaran sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman nama lain dari hormon ini adalah IAA atau Asam Indol Asetat. Hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar, fungsi dari hormon auksin ini adalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat pematangan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah. Beberapa fungsi auksin lainnya (Anonim, 2008)
Hasil Pengamatan :
Perlakuan Panjang rata-rata tunas lateral (mm) Diameter rata-rata batang (mm)
1. Kontrol 20 4
2. Tanaman dipotong dan diberi pasta lanolin - 2
3. Tanaman dipotong dan diberi pasta IAA - 2

Pembahasan
Dominansi apikal diartikan sebagai persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan, dominansi apikal atau dominanis pucuk biasanya menandai pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominansi apikal setidaknya berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan lateral. Selama masih ada tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari pucuk.
Dari tiga perilaku yang dilakukan tanaman yang memiliki panjang tunas lateral terpanjang yaitu tanaman control. Hal ini terjdi karena pada tanaman control tidak diberi pasta lanolin maupun pasta IAA sehingga menyebabkan tanamn tersebut tumbuh dengan normal. Dan juga karena hal tersebut tanamn ini memiliki diameter batang terbesar.
Pada tanamn yang diberi pasta lanolin dan pasta IAA memiliki panjang tunas yang tetap yaitu tidak mengalami perubahan hal ini terjadi karena pasta lanolin dan pasta IAA menghambat pertumbuhan tanaman, sedangkan pada diameter batang mengalami perubahan tetapi masih lebih kecil dari pada diameter tanaman control.
Semakin tinggi kadar konsentrasi auksin yang diberikan pada tanaman maka akan menghambat pertumbuhan tunas lateral, sebaliknya jika sedikit kadar auksin yang diberikan akan mempercepat pertumbuhan tunas lateral sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Kesimpulan
Auksin menghambat tumbuhnya tunas lateral pada tanaman. Jika kadar auksin yang diberikan pada tanaman banyak, maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan lateral, sedangkan jika pemberian auksin sedikit maka pertumbuhan tanaman akan lebih cepat.

Daftar pustaka
Chambell. 2000.Biologi. Erlangga: Jakarta.
Dahlia. 2001. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. UM Press: Malang.
Hilman. 1997. Pertumbuhan Tanaman Tinggi. Cakrawala: Yogyakarta.
Setjo,Sustetyoadi.2004. Anatomi Tumbuhan. UM Press: Malang